Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar

Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar
Selamat Datang di Website Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar
Satria Multimedia

"6 Principles of Ecohealth" Kejadian Luar Biasa (KLB) Malaria

"6 Principles of Ecohealth"

Kejadian Luar Biasa (KLB) Malaria

 

Oleh : Khairina Isnawaty, S. Kom., MPH

 

Salah satu hasil alam Kalimantan Selatan yang paling menonjol adalah Intan atau Batu Permata. Di daerah Cempaka, Pengaron, dan Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar merupakan beberapa daerah penghasil intan atau batu permata tersebut. Pekerjaan menjadi pendulang intan (pencari intan) merupakan mata pencaharian  masyarakat sekitar tempat atau lokasi pendulangan intan.

Kasus kejadian luar biasa penyakit malaria yang pernah terjadi di Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar, yaitu kaitannya dengan kejadian luar biasa yang menyebabkan banyak masyarakat di Kecamatan Aranio positif menderita penyakit malaria.

Wabah penyakit tersebut juga berkembang biak dari adanya bekas galian pendulangan intan yang dibiarkan ditinggalkan begitu saja oleh para pendulang intan, sehingga menimbulkan genangan air yang kemudian menjadi tempat perkembang biakan  nyamuk Anopheles (Malaria) .

Ecohealth merupakan suatu pendekatan bahwa pelestarian dan penjagaan kesehatan lingkungan merupakan dasar untuk kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan hewan dan kesehatan manusia.  Berdasarkan fakta atau kejadian yang ada, maka diambil kesimpulan atau penjabaran dengan 6 Principles of Ecohealth sebagai berikut :

 

1.    Systems Thinking (Paparan pola hubungan antara sistem sosial ekonomi dan ekosistem yang ada di Kecamatan Aranio)

Status sosial ekonomi masyarakat Kecamatan Aranio yang kebanyakan adalah dari kalangan ekonomi menengah kebawah menyebabkan masyarakat mencari alternative pekerjaan yang paling menghasilkan uang yaitu pekerjaan mendulang intan (mencari intan dengan cara tradisional) selain tidak menggunakan keahlian khusus mendulang intan juga tidak memerlukan modal besar. Meskipun pekerjaaan utama mereka bisa sebagai petani, buruh, maupun pedagang.

Lingkungan alam di Kecamatan Aranio yang masih berupa lahan hutan, sungai atau rawa, berpotensi atau banyak mengasilkan batuan alam berharga seperti intan permata. Mendulang intan bisa saja tanpa memikirkan masalah ekosistem yang erat kaitannya dengan kerusakan lingkungan atau ekosistem itu sendiri seperti :

a.    Lahan gundul tanpa adanya Reboisasi akibat penebangan liar untuk membuka lahan baru dijadikan kawasan pendulangan intan.

b.    Bekas galian pendulangan intan yang dibiarkan atau ditinggalkan begitu saja oleh si pendulang intan (orang yang bekerja mendulang intan) sehingga menyebabkan genangan apabila hujan dan menyebabkan perkembang biakan nyamuk penyebab malaria dan demam berdarah berkembang biak dengan baik. Tanpa adanya kesadaran dari pendulang intan untuk kembali memperbaiki ekosistem yang ada, meskipun hanya sekedar menanam beberapa bibit tanaman pohon atau menutup bekas galian pendulangan intan tersebut. Karena yang namanya masyarakat awam, mereka lebih mementingkan urusan mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka, tanpa memikirkan akibat yang akan muncul nantinya.

 

Pemerintah atau instansi terkait seperti Dinas Pertambangan dan Energi, Dinas Kesehatan, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum maupun Dinas Kehutanan tidak bisa berbuat banyak karena masalah ini erat kaitannya dengan mata pencaharian masyarakat setempat yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

 

2.    Transdiciplinary (Semua Cabang Ilmu Pengetahuan Yang Terlibat)

Diantaranya Entomologi, Antropologi, Mikrobiologi, Epidemiologi, Arsitektur, Teknik Sipil, Pertambangan dan Energi, Badan Lingkungan Hidup milik pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat yang menangani masalah lingkungan hidup, bekerja sama dengan petugas kesehatan masyarakat dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar khususnya kemudian UPT. Puskesmas Aranio, aparat desa, aparat kecamatan dan warga setempat. Membahas dan menyelesaikan permasalahan di Kecamatan Aranio terkait Pendulangan intan, bagaimana agar mata pencaharian masyarakat tetap jalan dan ekosistem atau lingkungan hidup tetap terjaga.

 

3.    Participation

Contoh Partisipasi Pemerintah atau Instansi dan Badan yang terkait, misalnya seperti :

Sosialisasi pemerintah tentang cara tepat melakukan 3 M. Pencegahan penyakit DBD maupun Malaria yang paling utama adalah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui kegiatan yang dikenal sebagai 3 M, yaitu Menguras bak atau penampungan air, Menutup bak atau tempat penampungan air, dan Menimbun/ mengubur barang-barang bekas seperti kaleng, botol, dan lain-lain.

Untuk Kecamatan Aranio Pemerintah Daerah khusus memberikan bantuan berupa Kelambu Insectisida yang diserahkan secara simbolis oleh Bupati Kabupaten Banjar.

           Perlu dipersiapkan  beberapa  petugas  kesehatan  dari Dinas Kesehatan, terutama yang memiliki keahlian di bidang epidemiologi, untuk memberikan pelatihan-pelatihan kepada beberapa masyarakat untuk menjadi kader kesehatan. Diharapkan dengan adanya kader-kader kesehatan ini, dapat memantau setiap kegiatan masyarakat dan lingkungannya, serta melakukan pemeriksaan jentik nyamuk secara berkala.

     Pemberdayaan masyarakat dalam kesehatan perlu ditingkatkan sebagai wujud nyata pencegahan dan pemberantasan penyakit potensi KLB khususnya Malaria sejak dini. Pemberdayaan masyarakat yang digagas ini sangat mendesak untuk segera direalisasikan, demi mencegah terjadinya KLB Malaria di Indonesia.

      Mengingat  persebaran  nyamuk  malaria  yang telah tersebar luas di seluruh tanah air, baik di rumah-rumah maupun di tempat-tempat umum, maka upaya pemberantasannya tidak hanya tugas pemerintah (tenaga kesehatan) saja, tetapi harus didukung peran serta masyarakat secara aktif.

4.    Gender and Social Equity

Kebersihan utama ditargetkan di lingkungan sekitar tempat tinggal masyarakat, untuk kebersihan rumah biasanya yang paling dominan adalah peran ibu rumah tangga, kemudian menutup lubang bekas galian pendulangan intan yang sudah tidak terpakai lagi yang dikerjakan para laki-laki.

 

5.    Sustainability

Pada dasarnya, masyarakat perlu digerakkan dengan suatu pola terpadu, yang disebut  dengan  program “masyarakat mandiri” yang  mempunyai makna  “kesadaran, keaktifan, dan kemandirian” khususnya dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui kegiatan yang dikenal sebagai 3 M .

 

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui kegiatan yang dikenal sebagai 3 M, yaitu Menguras bak atau penampungan air, Menutup bak atau tempat penampungan air, dan Menimbun/ mengubur barang-barang bekas seperti kaleng, botol, dan lain-lain. Kegiatan ini bertujuan untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk dengan cara membasmi telur dan jentik-jentik nyamuk, sehingga diharapkan tidak sampai menjadi nyamuk dewasa. Kegiatan 3 M ini harus dilaksanakan oleh masyarakat di lingkungan tempat tinggal di Kecamatan Aranio. Termasuk juga menutup lubang bekas galian pendulangan intan yang sudah tidak terpakai.

 

6.    Knowledge To Action

Bimbingan pelatihan sosialisasi mengenai penyakit malaria kepada masyarakat.

 

 

 

 "Mohon Untuk Mencantumkan Sumber Jika Ingin Mencopy Artikel Diatas"