Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) menggelar kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) pada Kamis (4/6/2026). Kegiatan ini diikuti oleh petugas surveilans dan Epidemiolog Kesehatan dari seluruh rumah sakit dan UPTD Puskesmas se-Kabupaten Banjar sebagai upaya meningkatkan kualitas pelaksanaan surveilans PD3I serta memperkuat sistem deteksi dini dan respons terhadap penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Hj. Mariana, SKM, dalam sambutannya menyampaikan bahwa surveilans PD3I merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga keberhasilan program imunisasi serta mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular.
“Surveilans yang berkualitas akan menghasilkan data yang akurat dan tepat waktu sehingga dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit. Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi ini, kita dapat mengidentifikasi berbagai kendala di lapangan sekaligus mencari solusi bersama untuk meningkatkan kinerja surveilans PD3I di Kabupaten Banjar,” ujarnya.
Hj. Mariana juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas surveilans dan Epidemiolog Kesehatan atas dedikasi yang telah diberikan dalam pelaksanaan surveilans PD3I.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh petugas surveilans dan epidemiolog kesehatan yang selama ini telah bekerja keras dalam melakukan pencatatan, pelaporan, investigasi kasus, serta pengelolaan spesimen. Semoga melalui pertemuan ini kapasitas dan koordinasi kita semakin baik sehingga kualitas surveilans PD3I di Kabupaten Banjar dapat terus meningkat,” tambahnya.

Pada kegiatan tersebut, peserta memperoleh pembekalan dari narasumber yang berkompeten di bidang surveilans dan imunisasi.
Materi pertama disampaikan oleh Nor Efendi, S.Kep., Ns., M.Epid. mengenai Konsep Surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Dalam paparannya dijelaskan mengenai prinsip-prinsip dasar surveilans PD3I, pentingnya deteksi dini kasus, ketepatan waktu pelaporan, serta peran surveilans dalam mendukung keberhasilan program imunisasi dan pengendalian penyakit.
Selanjutnya, Wardatul Jannah, SKM menyampaikan materi tentang Manajemen Tindak Lanjut Kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP) dan Pertusis. Materi ini menekankan pentingnya investigasi kasus secara cepat, kelengkapan data epidemiologi, serta tindak lanjut sesuai standar guna mendukung pencapaian target surveilans AFP dan pengendalian pertusis.
Sementara itu, Maulida Gading Rengganisari, SKM memaparkan materi mengenai Manajemen Pengelolaan Spesimen Campak Rubela dan Difteri. Peserta diberikan pemahaman mengenai tata cara pengambilan, penyimpanan, pengemasan, hingga pengiriman spesimen sesuai prosedur agar kualitas spesimen tetap terjaga dan hasil pemeriksaan laboratorium dapat mendukung penegakan diagnosis secara optimal.
Salah satu peserta menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan manfaat besar dalam meningkatkan pemahaman dan kompetensi petugas surveilans di lapangan.
“Kegiatan ini memberikan banyak pembaruan informasi serta menjadi wadah untuk berdiskusi mengenai berbagai kendala yang kami hadapi di lapangan. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara berkala agar kompetensi petugas terus meningkat dan koordinasi antarprogram semakin kuat,” ungkapnya.
Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar berharap kualitas pelaporan, investigasi kasus, serta pengelolaan spesimen oleh petugas surveilans dan Epidemiolog Kesehatan dapat terus meningkat sesuai dengan standar yang berlaku.
Ke depan, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar berkomitmen untuk terus memperkuat sistem surveilans melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan koordinasi lintas program, serta optimalisasi pelaksanaan surveilans PD3I guna mendukung keberhasilan program imunisasi dan memberikan perlindungan yang lebih optimal kepada masyarakat dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.





Tinggalkan Balasan